Nasehat asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala
Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadikan anak-anak shalih
menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya yang shalih. Aku bersaksi
tiada illah yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu
bagi-Nya, Dialah wali bagi orang beriman. Dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Nabi yang paling utama di antara
para nabi. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga
beliau, sahabat-sahabat beliau, serta orang yang mengikuti petunjuk
beliau hingga hari kiamat.
Wahai manusia sekalian, perlu diketahui bahwa masyarakat yang baik
dibangun di atas pergaulan dan rumah tangga yang baik. Sementara rumah
tangga yang baik disokong oleh peran seorang istri yang shalihah. Untuk
itu seorang laki-laki muslim wajib memilih istri yang shalihah.
Sebagaimana wejangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Wanita-wanita shalihah lagi bertakwa, menjaga diri saat ditinggal suaminya.” (QS an-Nisa’: 34) .
Hendaknya seorang laki-laki memilih istri yang shalihah karena dia
adalah penopang rumah tangga, pendidik anak-anak sekaligus penjaga
rahasia-rahasia suaminya. Adapun makna firman Allah Ta’ala,
[فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَات] yaitu wanita-wanita yang taat kepada Allah.
[حَافِظَاتٌ لِلْغَيْب] yaitu jika suami pergi meninggalkan istri maka
sang istri berusaha menjaga dirinya, harta suami, dan anak-anaknya
sampai suaminya kembali.
.
Wahai hamba-hamba ar-Rahman, diantara bentuk doa yang mereka panjatkan,
.
Wahai hamba-hamba ar-Rahman, diantara bentuk doa yang mereka panjatkan,
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Wahai Rabb kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan
yang menyejukkan pandangan.” Dalam doa ini penyebutan istri
didahulukan. Seorang penyair berkata,
الأم مدرسة إذا أعددتها *** اعتددت شعبا طيب الأعراق
“Seorang ibu, madrasah bagi anaknya bila ia menyiapkannya… menyiapkan generasi muda yang baik jenisnya.”
Seseorang yang dikarunia anak baik laki-laki ataupun perempuan,
hendaknya ia mengutamakan pendidikan mereka sedari kecil, saling tolong
menolong bersama sang ibu untuk mendidik mereka di atas kebaikan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ
وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي
الْمَضَاجِع
“Perintahkanlah anak-anak kalian melaksanakan shalat saat umur 7
tahun. Dan pukullah (jika tidak mau shalat) saat umur 10 tahun serta
pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud No. 495).
Inilah pendidikan bertahap yang dilakukan semenjak mereka kecil.
Tidak diragukan lagi semua ini membutuhkan kesabaran dan keletihan,
tetapi tentunya dalam rangka menaati Allah. Kesabaran yang lezat.
Kesudahan yang baik bagi orang yang bertakwa.
Hendaknya ayah ibu saling membantu untuk mendidik anak-anaknya.
Seorang ibu lebih banyak menyiapkan bekal pendidikan untuk
putri-putrinya tentang akhlak yang luhur, menutup aurat, menanamkan rasa
malu. Adapun sang ayah lebih banyak porsi pendidikan untuk
putra-putranya semua hal tentang kelaki-lakian, adab seorang laki-laki
hingga akhirnya ia tumbuh menjadi anak yang shalih bermanfaat bagi orang
tuanya saat keduanya hidup ataupun setelah tiada. biidznillah.
Proses pendidikan anak dalam rangka perbaikan keturunan tidak akan
tercapai kecuali dengan kelelahan. Mau tak mau harus dengan rasa letih,
membutuhkan kesabaran, perencanaan dan pengawasan. Jika tidak demikian
maka keluarga tersebut akan sia-sia seperti halnya yang terjadi pada
sebagian besar rumah tangga kaum muslimin. Terlebih di zaman ini. Begitu
banyak fitnah, berbagai macam keburukan dan pemalingan dari kebenaran.
Duhai dimanakah para ayah?
Dimanakah para ibu?
Dimanakah para ibu?
Para ayah sibuk dengan dunianya, membanting tulang bekerja siang dan
malam. Mereka juga semangat berkumpul dengan temannya hanya untuk
ngegosip hingga larut malam. Atau bahkan lebih parah dari itu. Para ibu
sibuk berkeliaran di jalanan, seabrek jadwal meeting dengan dalih untuk belajar, penelitian atau pekerjaan.
Sementara sang anak dilemparkan (tanggung jawab pendidikan) kepada
guru atau dimasukkan ke PAUD. Mereka tak ubahnya seperti anak-anak
yatim, anak-anak jalanan yang tak mengenal siapa orangtuanya.
Aduhai di manakah amanah itu wahai manusia?
Di manakah gerangan amanah yang dipikulkan di atas pundak-pundak kalian?
Di manakah gerangan amanah yang dipikulkan di atas pundak-pundak kalian?
Bertakwalah kalian kepada Allah. Anak-anak adalah amanah yang dipikul
di atas pundak kalian. Kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban
atas mereka. Merekalah bawahan yang menjadi tanggungjawab kalian.
الرَّجُلَ رَاعٍ في بَيْتِهِ، مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap laki-laki adalah pemimpin rumah tangganya kelak akan dimintai tanggungjawab tentang keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Orang yang menyia-nyiakan keluarganya akan mendapatkan ancaman keras
kelak di hari kiamat. Sebagimana disebutkan dalam hadits shahih,
ما من راع يسترعيه الله رعية ثم يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة
“Tidak ada seorangpun pemimpin dimana Allah mengikat dirinya dengan
orang yang menjadi tanggungannya, kemudian ia mati dalam keadaan berbuat
dzalim kepada mereka kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR.
ath-Thabrani No. 533 dalam al-Mu’jamul Kabir, No. 4916 dan 8713 dalam
al-Mu’jamul Ausath).
Takutlah wahai hamba Allah… Terlebih di zaman sekarang ini berbagai
macam fitnah/ujian menggelora. Fitnah bermunculan di jalanan, di
sekolah-sekolah, di rumah-rumah. Berbagai jenis fitnah masuk begitu
mudahnya hanya melalui kontak dengan media. Sebut saja media internet,
dengan hitungan menit seseorang bisa menjelajah kehidupan di Eropa,
Amerika dan negara-negara kafir lainnya. Ironisnya media itu terpasang
di rumah-rumah negeri kaum muslimin.
Tak terelakkan lagi, pengaruh negatif berdatangan dan masuk ke dalam
rumahnya dalam format video, audio ataupun media cetak saat dia
bersantai di atas kasurnya. Lebih parah lagi apabila istri-istri dan
anak-anak perempuan sambil tiduran di atas kasurnya, engkau melihat
mereka berada di dalam rumah, namun hakikatnya pikiran dan lamunannya
berkelana keluar rumah hanya dengan media ini. Media yang telah memenuhi
rumah-rumah kebanyakan kaum muslimin.
Inilah media yang menghantarkan kepada keburukan, kerusakan,
kehancuran akal pikiran, akhlak, agama dan akidah sementara engkau tidak
menyadarinya. Obsesi kalian hanyalah sebatas dunia saja, menghabiskan
malam dengan kawan, jalan-jalan, dan yang lainnya. Atau terus berpacu
tanpa henti menghitung-hitung barang dagangan, harta, kesehatan. Karena
anak kalian sejatinya adalah berapa keuntungan.
Tatkala engkau melupakan anak-anakmu, maka ketika itu engkau telah
menyia-nyiakan agama dan dunimu. Sehingga mereka hanya akan menjadi
penyesalanmu di masa yang akan datang. Allah Ta’ala berfirman,
فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ
اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ
أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu.
Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan
anak-anak. Itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak
akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At
Taubah:55).
Takutlah kalian wahai hamba Allah… Masalah ini benar-benar serius,
bahayanya sangat dahsyat di zaman ini. Sementara kebanyakan kalian
melalaikannya.
Awasilah anak kalian, perhatikanlah mereka… Ajaklah mereka ke masjid…
Ajaklah mereka mendatangi majelis ilmu dan ceramah agama yang
bermanfaat… Teruslah mengajaknya menghadiri pertemuaan kalian agar
mereka terbiasa mendengarkan pembicaraan orang alim… Didiklah mereka
hingga memiliki budi pekerti yang luhur…
Pendidikan tidak akan terwujud hanya dengan banyaknya harta dan anak…
Pendidikan yang baik tidak akan berhasil dengan harta dan keturuanan
yang banyak… Pendidikan tidak akan berhasil kecuali dengan keletihan,
usaha keras dan kepayahan, akan tetapi buahnya sangatlah manis jika
pendidikan yang baik bisa tercapai…
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” Anak dilahirkan diatas
fitrahnya yaitu di atas keselamatan, kebaikan seperti pendidikan yang
baik nan subur. Namun terkadang ia dikuasai pendidikan buruk yang
memalingkannya dari kebenaran hingga akhirnya merusaknya. Sebagaimana
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِه أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. maka kedua orang tuanyalah
yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi atau menjadikannya sebagai
seorang Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Inilah pendidikan yang buruk. Baik karena sebab kelalaian orang
tuanya atau karena pengaruh negatif media perusak dari mulai video,
audio sampai media cetak. Semua layanan negatif ini tersedia di HP,
internet, Facebook sebagaimana yang mereka namakan dan nama lain yang
aku sendiri tidak mengetahuinya.
Inilah media perusak dan penghancur rumah tangga, pergaulan dan
tatanan kehidupan masyarakat. Kondisi inilah yang diinginkan oleh
musuh-musuh Islam. Musuh Islam tidaklah memerangi kalian dengan senjata
namun menyerang kalian dengan ideologi buruk, menyerang kalian dengan
alat-alat penghancur dengan media yang kalian miliki sendiri sementara
kalian tidak menyadarinya.
Wahai hamba Allah bertakwalah kepada-Nya… Bertakwalah kalian tentang urusan rumah tangga kalian, tentang anak-anak kalian.
Lihatlah kisah Nuh ‘alaihissalam saat menaiki kapal bersama orang
beriman, sementara anaknya tersesat dan tidak mau menaikinya. Nabi Nuh
dengan lemah lembut mengajaknya,
يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِي
“Wahai anakku naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42).
Sang anak malah menimpali,
سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنْ الْمَاء
“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud: 43).
Sang ayah berkata,
لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ
“Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah kecuali Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” (QS. Hud: 43).
Allah lanjutkan firman-Nya,
وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنْ الْمُغْرَقِينَ
“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak
itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43).
Tatkala Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam berlabuh di daratan beliau berkata,
رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَق
“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan
sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.” (QS. Hud: 45). Yaitu janji
Allah untuk menyelamatkan Nabi Nuh bersama keluarganya.
Allah Ta’ala menjawab,
Allah Ta’ala menjawab,
يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِك
“Wahai Nuh sesungguhnya anakmu bukanlah keluargamu.” (QS. Hud: 46).
Kenapa?
إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ
“Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hud: 46).
Dalam qiro’ah lain berbunyi,
عَمَيل غَيْر صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ الْجَاهِلِينَ* قَالَ رَبِّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ
تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنْ الْخَاسِرِينَ
“Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu
janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui
(hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu
jangan termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.. Nuh berkata: ‘Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada
Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya
Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan
kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud:
46-47).
Perhatikanlah, apa akibat perbuatan anak Nabi Nuh yang tidak patuh kepada ayahnya dan lebih memilih bersama orang kafir?
Ya, ia tenggelam bersama orang-orang kafir sementara dia anak Nabi
Nuh meski demikian kedudukan ayahnya tidak memberi manfaat padanya.
Takutlah kalian kepada Allah tentang urusan anak-anak kalian.
Perbaikan tidak akan terwujud hanya dengan harta dan anak yang banyak
namun tanpa kelelahan.
ومن طلب العلا من غير كدٍ *** فقد أضاع العمر في طلب المحالِ.
“Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan tanpa ketekunan, maka sungguh dia hanya menyia-nyiakan umur tentang cita-citanya itu.”
Pendidikan tidak akan terwujud tanpa kesungguhan dan tanpa kelelahan… Maka bersabarlah… Mendidik anak termasuk jihad fi sabilillah
bahkan jihad yang paling agung. Engkau berjihad mendidik anak-anakmu
untuk taat kepada Allah, bersabar di atas penderitaan dan terus menerus
istiqamah di atasnya sampai kalian ditakbirkan (disholatkan). Karena
engkau kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. Kelak di
hari kiamat engkau akan ditanya Allah tentang anak-anakmu.
Ketahuilah, sekarang ini kalian seperti halnya penggembala kambing di
lembah sarang binatang buas. Jika engkau lengah sedikit saja maka
kambingmu diterkam.
ومن رعى غنماً في أرض مسبعةٍ *** ونام عنها تولى رعيها الأسدُ
“Barangsiapa yang menggembala kambing di sarang binatang buas… Lalu dia terlelap, maka singa akan menguasai kambingnya.”
Demikian juga halnya anak-anak kalian. Engkau membiarkan anak-anak
dikuasai oleh musuh kalian sendiri. Baik secara langsung dengan adanya
guru pendidik yang jelek ataupun secara tidak langsung melalui media
penghancur sementara kalian sendiri lalai darinya. Dada-dada anak kalian
dipenuhi oleh pengaruh negatif media, begitu juga rumah-rumah mereka.
Takutlah kalian wahai hamba Allah… Bertakwalah kepada Allah… Sekarang
lihatlah tempat tinggal kalian, lihatlah fitnah bertebaran di
sekelilingmu di negerimu… Ia telah menghancurkan kalian hingga
kebanyakan kelompok orang berpecah belah. Inilah hukuman dari Allah
Subahanahu wa Ta’ala.
Berhati-hatilah jangan sampai apa yang telah menimpa tetangga kalian juga menimpa kalian.
وَمَا هِيَ مِنْ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
“Siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.”
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).
Semoga Allah memberkahi diriku dan kalian dengan al-Qur’an yang
agung. Semoga penjelasan al-Qur’an dan peringatan di dalamnya bermanfaat
bagi kita. Aku katakan ini dengan sebenarnya. Dan semoga Allah
mengampuniku, kalian dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa. Minta
ampunlah kepada-Nya, bertaubatlah kepada-Nya sesungguhnya Dia Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.
—-
—-
Diterjemahkan oleh: Ummu Fatimah Umi Farikhah
Pemuraja’ah: Ustadz Raehanul Bahraen
Sumber:http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14982
No comments:
Post a Comment